Salam ShiningShare!
Terkadang kepikiran gini, ketika orang Indonesia suka budaya asing, dibilang tidak cinta dengan budaya sendiri. Dan ketika ada orang asing yang mencintai budaya kita, malah dijadikan contoh, dan muncul saja ungkapan, "Bule aja suka sama budaya Indonesia, kenapa kita nggak?"
Sebenarnya menurutku itu memang sudah hukum alam, bahwa kita selalu menyukai hal-hal baru yang jarang kita temui atau kita lihat. Ketika suatu budaya bagi kita menjadi adat istiadat, yang notabene menjadi rutinitas kita setiap harinya, maka hal itu menjadi kurang begitu istimewa bagi kita. Namun bagi mereka, orang asing yang tertarik dengan budaya kita, mereka menemukan sesuatu yang baru dan belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bahkan dengan beragam budaya di negeri kita sendiri pun terkadang kita lebih tertarik ke budaya lain daripada budaya daerah asal kita sendiri. Misalkan saja ada orang Jogja mendalami tari Kecak, orang Papua jago main angklung, dan lain sebagainya.
Jadi wajar saja mereka tertarik, bukankah kita juga tertarik dengan budaya asing karena kita menemukan sesuatu yang baru di dalamnya. Ambil satu contoh misalnya film. Dalam perfilman Indonesia, efek yang "wah" tidak terlalu diperhitungkan untuk meningkatkan kualitas film, namun fokus pada jalan ceritanya saja yang biasanya didominasi oleh drama romantis atau komedi. Efek film horror pun kebanyakan hanya mengandalkan make-up saja. Namun di luar negeri, kita melihat hal yang jauh lebih "wah" dari segi efek maupun jalan ceritanya. Tema cerita yang beragam, efek animasi yang memanjakan mata, dan aktor yang berkualitas menjadikannya sangat memuaskan untuk ditonton.
Di sisi lain, film Indonesia yang sudah masuk kancah internasional, misalnya The Raid, bisa memenangkan festival film internasional dan mendapatkan perhatian di seluruh belahan dunia. Padahal film The Raid bisa dibilang minim efek jika dibandingkan dengan film-film sekelas Hollywood lainnya, misalkan saja Skyfall dan The Dark Knight Rises. Nah, kira-kira menurut kalian apa yang menarik dari film The Raid? Bunuh-bunuhannya? Efek darahnya? Kalo menurutku, karena jalan ceritanya yang sederhana dan.......adanya unsur beladiri Pencak Silat di dalamnya. Pencak Silat yang merupakan ilmu bela diri asli Indonesia diterapkan di film ini, dan hal itu mampu menarik para penikmat film Internasional. Perlu diingat, di sini Pencak Silat merupakan budaya yang bisa dibilang sudah biasa kita lihat sehari-hari, namun bagi mereka (orang amerika yang baru menonton The Raid), Pencak Silat merupakan hal yang menakjubkan dan menarik untuk ditonton.
Pada intinya, di sini aku bukan bermaksud menjelekkan budaya sendiri, namun ketika kita salah satu orang yang merasa bahwa budaya kita perlu kita cintai, maka janganlah membandingkannya dengan patokan ungkapan berikut ini, "Bule aja suka sama budaya Indonesia, kenapa kita nggak?", akan tetapi cobalah mempromosikan budaya kita dari sudut pandang orang asing. Coba selidiki apa yang membuat orang asing takjub dan menyukai budaya kita, dan dari situlah materi promosi didapatkan. Film The Raid sudah cukup menjadi contoh yang baik dalam hal ini, yaitu bisa melihat apa yang diinginkan oleh penikmat film terutama film action, dan mengaplikasikannya ke seni beladiri asli Indonesia. Dan perlu diingat juga, sutradara film The Raid pun bukan orang asli Indonesia, namun dari Britania Raya yang bernama Gareth Evans. Mungkin dia sangat mencintai berbagai macam budaya di Indonesia sehingga beberapa film yang ia sutradarai bernuansa Indonesia [Mystic Arts of Indonesia: Pencak Silat (2008), Merantau (2009), The Raid (2012), Berandal (2014)]. dan Gareth Evans menemukan cara yang jitu untuk mempromosikan budaya Indonesia favoritnya, yaitu melalui film.
Contoh di atas hanyalah salah satu dinamika budaya yang terjadi di masyarakat saat ini. Masih banyak hal-hal lain yang bisa dibahas, misalnya dunia musik, anime, game, dll. yang tidak bisa dijelaskan semuanya satu per satu. Namun semuanya kembali ke diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang hanya mencintai budaya sendiri atau hanya mencintai budaya asing saja, atau bahkan mencintai keduanya. Tidak ada yang mengharuskan kita untuk hanya mencintai satu budaya saja. Dan apapun budaya pilihan kalian, jangan sampai hal itu menjadi alasan untuk sebuah perpecahan, tetapi jadikanlah alasan agar kita semua tetap bersatu.
Kenali budaya kita sendiri dan kenali juga budaya asing. Namun keduanya jangan saling dibandingkan. Karena budaya itu untuk dijalani dan dihayati maknanya, kemudian diaplikasikan ke dalam kehidupan kita. Bukan sebagai alat untuk memulai perpecahan.
*Semoga bermanfaat dan maaf jika ada salah kata.
Terkadang kepikiran gini, ketika orang Indonesia suka budaya asing, dibilang tidak cinta dengan budaya sendiri. Dan ketika ada orang asing yang mencintai budaya kita, malah dijadikan contoh, dan muncul saja ungkapan, "Bule aja suka sama budaya Indonesia, kenapa kita nggak?"
Sebenarnya menurutku itu memang sudah hukum alam, bahwa kita selalu menyukai hal-hal baru yang jarang kita temui atau kita lihat. Ketika suatu budaya bagi kita menjadi adat istiadat, yang notabene menjadi rutinitas kita setiap harinya, maka hal itu menjadi kurang begitu istimewa bagi kita. Namun bagi mereka, orang asing yang tertarik dengan budaya kita, mereka menemukan sesuatu yang baru dan belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bahkan dengan beragam budaya di negeri kita sendiri pun terkadang kita lebih tertarik ke budaya lain daripada budaya daerah asal kita sendiri. Misalkan saja ada orang Jogja mendalami tari Kecak, orang Papua jago main angklung, dan lain sebagainya.
Jadi wajar saja mereka tertarik, bukankah kita juga tertarik dengan budaya asing karena kita menemukan sesuatu yang baru di dalamnya. Ambil satu contoh misalnya film. Dalam perfilman Indonesia, efek yang "wah" tidak terlalu diperhitungkan untuk meningkatkan kualitas film, namun fokus pada jalan ceritanya saja yang biasanya didominasi oleh drama romantis atau komedi. Efek film horror pun kebanyakan hanya mengandalkan make-up saja. Namun di luar negeri, kita melihat hal yang jauh lebih "wah" dari segi efek maupun jalan ceritanya. Tema cerita yang beragam, efek animasi yang memanjakan mata, dan aktor yang berkualitas menjadikannya sangat memuaskan untuk ditonton.
Di sisi lain, film Indonesia yang sudah masuk kancah internasional, misalnya The Raid, bisa memenangkan festival film internasional dan mendapatkan perhatian di seluruh belahan dunia. Padahal film The Raid bisa dibilang minim efek jika dibandingkan dengan film-film sekelas Hollywood lainnya, misalkan saja Skyfall dan The Dark Knight Rises. Nah, kira-kira menurut kalian apa yang menarik dari film The Raid? Bunuh-bunuhannya? Efek darahnya? Kalo menurutku, karena jalan ceritanya yang sederhana dan.......adanya unsur beladiri Pencak Silat di dalamnya. Pencak Silat yang merupakan ilmu bela diri asli Indonesia diterapkan di film ini, dan hal itu mampu menarik para penikmat film Internasional. Perlu diingat, di sini Pencak Silat merupakan budaya yang bisa dibilang sudah biasa kita lihat sehari-hari, namun bagi mereka (orang amerika yang baru menonton The Raid), Pencak Silat merupakan hal yang menakjubkan dan menarik untuk ditonton.
Pada intinya, di sini aku bukan bermaksud menjelekkan budaya sendiri, namun ketika kita salah satu orang yang merasa bahwa budaya kita perlu kita cintai, maka janganlah membandingkannya dengan patokan ungkapan berikut ini, "Bule aja suka sama budaya Indonesia, kenapa kita nggak?", akan tetapi cobalah mempromosikan budaya kita dari sudut pandang orang asing. Coba selidiki apa yang membuat orang asing takjub dan menyukai budaya kita, dan dari situlah materi promosi didapatkan. Film The Raid sudah cukup menjadi contoh yang baik dalam hal ini, yaitu bisa melihat apa yang diinginkan oleh penikmat film terutama film action, dan mengaplikasikannya ke seni beladiri asli Indonesia. Dan perlu diingat juga, sutradara film The Raid pun bukan orang asli Indonesia, namun dari Britania Raya yang bernama Gareth Evans. Mungkin dia sangat mencintai berbagai macam budaya di Indonesia sehingga beberapa film yang ia sutradarai bernuansa Indonesia [Mystic Arts of Indonesia: Pencak Silat (2008), Merantau (2009), The Raid (2012), Berandal (2014)]. dan Gareth Evans menemukan cara yang jitu untuk mempromosikan budaya Indonesia favoritnya, yaitu melalui film.
Contoh di atas hanyalah salah satu dinamika budaya yang terjadi di masyarakat saat ini. Masih banyak hal-hal lain yang bisa dibahas, misalnya dunia musik, anime, game, dll. yang tidak bisa dijelaskan semuanya satu per satu. Namun semuanya kembali ke diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang hanya mencintai budaya sendiri atau hanya mencintai budaya asing saja, atau bahkan mencintai keduanya. Tidak ada yang mengharuskan kita untuk hanya mencintai satu budaya saja. Dan apapun budaya pilihan kalian, jangan sampai hal itu menjadi alasan untuk sebuah perpecahan, tetapi jadikanlah alasan agar kita semua tetap bersatu.
Kenali budaya kita sendiri dan kenali juga budaya asing. Namun keduanya jangan saling dibandingkan. Karena budaya itu untuk dijalani dan dihayati maknanya, kemudian diaplikasikan ke dalam kehidupan kita. Bukan sebagai alat untuk memulai perpecahan.
*Semoga bermanfaat dan maaf jika ada salah kata.

