Inspiring everyone, make the world a better place

Senin, 23 Februari 2015

Budaya Asing vs Budaya Lokal, Sebuah Pemikiran

Salam ShiningShare!

Terkadang kepikiran gini, ketika orang Indonesia suka budaya asing, dibilang tidak cinta dengan budaya sendiri. Dan ketika ada orang asing yang mencintai budaya kita, malah dijadikan contoh, dan muncul saja ungkapan, "Bule aja suka sama budaya Indonesia, kenapa kita nggak?"

Sebenarnya menurutku itu memang sudah hukum alam, bahwa kita selalu menyukai hal-hal baru yang jarang kita temui atau kita lihat. Ketika suatu budaya bagi kita menjadi adat istiadat, yang notabene menjadi rutinitas kita setiap harinya, maka hal itu menjadi kurang begitu istimewa bagi kita. Namun bagi mereka, orang asing yang tertarik dengan budaya kita, mereka menemukan sesuatu yang baru dan belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bahkan dengan beragam budaya di negeri kita sendiri pun terkadang kita lebih tertarik ke budaya lain daripada budaya daerah asal kita sendiri. Misalkan saja ada orang Jogja mendalami tari Kecak, orang Papua jago main angklung, dan lain sebagainya.

Jadi wajar saja mereka tertarik, bukankah kita juga tertarik dengan budaya asing karena kita menemukan sesuatu yang baru di dalamnya. Ambil satu contoh misalnya film. Dalam perfilman Indonesia, efek yang "wah" tidak terlalu diperhitungkan untuk meningkatkan kualitas film, namun fokus pada jalan ceritanya saja yang biasanya didominasi oleh drama romantis atau komedi. Efek film horror pun kebanyakan hanya mengandalkan make-up saja. Namun di luar negeri, kita melihat hal yang jauh lebih "wah" dari segi efek maupun jalan ceritanya. Tema cerita yang beragam, efek animasi yang memanjakan mata, dan aktor yang berkualitas menjadikannya sangat memuaskan untuk ditonton.

Di sisi lain, film Indonesia yang sudah masuk kancah internasional, misalnya The Raid, bisa memenangkan festival film internasional dan mendapatkan perhatian di seluruh belahan dunia. Padahal film The Raid bisa dibilang minim efek jika dibandingkan dengan film-film sekelas Hollywood lainnya, misalkan saja Skyfall dan The Dark Knight Rises. Nah, kira-kira menurut kalian apa yang menarik dari film The Raid? Bunuh-bunuhannya? Efek darahnya? Kalo menurutku, karena jalan ceritanya yang sederhana dan.......adanya unsur beladiri Pencak Silat di dalamnya. Pencak Silat yang merupakan ilmu bela diri asli Indonesia diterapkan di film ini, dan hal itu mampu menarik para penikmat film Internasional. Perlu diingat, di sini Pencak Silat merupakan budaya yang bisa dibilang sudah biasa kita lihat sehari-hari, namun bagi mereka (orang amerika yang baru menonton The Raid), Pencak Silat merupakan hal yang menakjubkan dan menarik untuk ditonton.

Pada intinya, di sini aku bukan bermaksud menjelekkan budaya sendiri, namun ketika kita salah satu orang yang merasa bahwa budaya kita perlu kita cintai, maka janganlah membandingkannya dengan patokan ungkapan berikut ini, "Bule aja suka sama budaya Indonesia, kenapa kita nggak?", akan tetapi cobalah mempromosikan budaya kita dari sudut pandang orang asing. Coba selidiki apa yang membuat orang asing takjub dan menyukai budaya kita, dan dari situlah materi promosi didapatkan. Film The Raid sudah cukup menjadi contoh yang baik dalam hal ini, yaitu bisa melihat apa yang diinginkan oleh penikmat film terutama film action, dan mengaplikasikannya ke seni beladiri asli Indonesia. Dan perlu diingat juga, sutradara film The Raid pun bukan orang asli Indonesia, namun dari Britania Raya yang bernama Gareth Evans. Mungkin dia sangat mencintai berbagai macam budaya di Indonesia sehingga beberapa film yang ia sutradarai bernuansa Indonesia [Mystic Arts of Indonesia: Pencak Silat (2008), Merantau (2009), The Raid (2012), Berandal (2014)]. dan Gareth Evans menemukan cara yang jitu untuk mempromosikan budaya Indonesia favoritnya, yaitu melalui film.

Contoh di atas hanyalah salah satu dinamika budaya yang terjadi di masyarakat saat ini. Masih banyak hal-hal lain yang bisa dibahas, misalnya dunia musik, anime, game, dll. yang tidak bisa dijelaskan semuanya satu per satu. Namun semuanya kembali ke diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang hanya mencintai budaya sendiri atau hanya mencintai budaya asing saja, atau bahkan mencintai keduanya. Tidak ada yang mengharuskan kita untuk hanya mencintai satu budaya saja. Dan apapun budaya pilihan kalian, jangan sampai hal itu menjadi alasan untuk sebuah perpecahan, tetapi jadikanlah alasan agar kita semua tetap bersatu.

Kenali budaya kita sendiri dan kenali juga budaya asing. Namun keduanya jangan saling dibandingkan. Karena budaya itu untuk dijalani dan dihayati maknanya, kemudian diaplikasikan ke dalam kehidupan kita. Bukan sebagai alat untuk memulai perpecahan.

*Semoga bermanfaat dan maaf jika ada salah kata.

Introduction

Salam kenal wahai Netizen & Blogger yang baik dan budiman!

Perkenalkan, namaku May Gusni Satriya Widayanto. Aku asli dari Jogja, jadi kalian bisa panggil aku Satriya, Sat, Mas Sat, dan sejenisnya. Tapi jangan pake Bang, karena bisa bikin dosa buat yang manggil soalnya ngomong kasar. Hehehe~

Kata temen-temenku, aku orangnya santai, bahkan cenderung terlalu santai. Sampai pernah pernah aku dianggap kena semacam gangguan psikologis sama orang yang baru aku kenal karena seolah gak punya emosi. Ditambah lagi aku sekarang memang sedang aktif kuliah di Fakultas Psikologi UGM, jadinya oke fix, aku makin dianggep berobat jalan di sana.

Sebenernya kalo diibaratkan sebuah benda, aku itu seperti es batu. Awalnya kalo belum kenal itu pasti bilangnya aku itu orangnya pendiem, kaku, punya tatapan dingin, seakan mau membunuh (oke itu berlebihan, gak segitunya kok). Tapi kalo udah mulai membaur sama suatu kelompok, aku bisa perlahan mencair dan memberi kesegaran bagi semuanya, meski kadang suka bikin 'ngilu' (nyinggung perasaan orang lain gitu maksudnya). Banyak yang bilang aku orangnya lucu meski kadang banyak jayusnya. Banyak juga yang bilang aku cerdas meski kadang banyak lemotnya. Ada juga yang bilang aku tampan meski banyak yang bohong *miris.

Banyak hal dari pengalaman pribadiku yang ingin sekali aku share ke kalian semua, yang semoga bisa menginspirasi hidup kalian juga. Ada pepatah bahwa 'Experince is the best teacher', tapi kalo aku sih berpendapat kalo 'Experience of others is better teacher'. Memang benar kalo segalanya harus kita coba, tapi bukan berarti kita tidak mempertaruhkan segalanya juga. Belajar dari pengalaman orang lain juga diperlukan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan membuat diri kita sulit maju.

Biar agak keren dikit, di sini aku mau pake semacam nickname, yaitu ShiningWords yang bisa diartikan kata-kata yang bercahaya. Jadi harapannya dengan adanya blog ini, setiap kata-kata yang ditulis di dalamnya bisa memberi cahaya bagi kehidupan kalian semua. So, my name is Satriya The ShiningWords, and let's shine together!

*btw agak narsis nih fotonya, tapi ini ngeditnya cuma modal corel doang lhoo~ hehehe



Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Sample Text

Download

Unordered List